KOde Etik GURU PAK



KODE ETIK DAN PROFESIONALISME GURU PAK (HAKIKAT BIMBINGAN DAN KONSELING)















MATA KULIAH : KODE ETIK DA PROFESIONALISME GURU PAK
Dosen Pengampu  : Rony Handerson, M.Pd.K
Nama Mahasiswa : Halimah Marbun
Prodi :  PAK
NIM   : 2015.02.008
Semester : 5



STT LETS
Perwakilan Tanjung Uban
2017




KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas pertolongan-Nya Penulis dapat menyelesaikan tugas Paper dengan judul KODE ETIK DAN PROFESIONALISME GURU PAK. Di mana dalam buku ini dapat memberikan pengetahuan kepada Guru maupun calon Guru tentang norma-norma, dan aturan-aturan, dan bagaimana Kode etik seorang Guru dan dan Ke-profesionalisme-an seorang Guru yang juga sebagai Pendidik dan pembimbing di sekolah.
            Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Dosen Pengampu  yang memberikan tugas Paper ini. Penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dalam menyusun tugas Paper ini. meskipun dalam mengerjakan paper ini penulis telah mencurahkan semua kemampuan, namun Penulis menyadari bahwa hasil penyusunan Paper ini jauh dari kata sempurna.
           


Tanjung Uban, 03 Juni 2017

Penulis, Halimah Marbun






5.3 Bidang dan Jenis-Jenis Layanan Bimbingan
A. Bidang-Bidang Bimbingan
1. Bidang Bimbingan Pribadi
            Bidang bimbingan pribadi ini merupakan upaya pemberian layanan bantuan kepada individu, peserta didik atau klien yang menyangku karateristik[A1]  atau aspek-aspek perkembangan pribadinya. Aspek-aspek itu meliputi: (1) kondisi fisik (struktur tubuh, kesehatan, keutuhan, dan keberfungsiannya), (2) kemampuan intelektual (kecerdasan, bakat, atau kemampuan-kemampuan khusus, kemampuan memecahkan masalah atau mengambil keputusan, dan berfikir kreatif), (3) kondisi emosional (kemampuan mengendalikan diri, sikap terhadap diri sendiri atau orang lain, ketabahan dalam menghadapi berbagai problema kehidupan, dan apresiasi diri terhadap kehidupan), serta (4) moralitas[A2]  dan kesadaran beragama (pemahaman dan pengenalan nilai-nilai atau norma-norma kehidupan, baik yang bersumber dari agama maupun budaya/adat istiadat).
            Bimbingan mempunyai kepedulian untuk membantu individu tau peserta didik , agar mereka mampu mengembangkan karateristik perkembangannya tersebut secara ptiml, sehingga mereka dapat mencegah terjadinya masalah. Contohnya: guru pembimbing bersama siswa berdiskusi tentang bagaimana pentingnya kesadaran beragama dalam kehidupan . Contoh opik diskusi adalah kasus AIDS[A3]  yang merebak dikalangan remja (juga dewasa). Melalui diskusi itu, para siswa diharapkan dapat  memahami bahwa AIDS itu merupakan dampak dari kurang mempedulikan nilai-nilai agama, yaitu melecehkan larangan berzinah (free sex, atau hubungan seksual di luar pernikahan).
2. Bidang Bimbingan Sosial
            Bimbingan sosial ini merupakan upaya bantuan yang menyangkut pengembangan kemampuan membina hubungan kemanusiaan secara positif dan konstruktif[A4]  dengan sesama di berbagai lingkungan (pergaulan sosial), seperti di lingkungan keluarga, sekolah, teman sebaya dan masyarakat. Dalam kehidupan yang multibudaya,[A5]  ras, etnis, dan agama. Apabila setiap individu telah memiliki keadaran tersebut, maka akan berkembang sikap simpati atau respek terhadap orang lain dan dapat menghindarkan diri dari situasi konflik social (seperti tawuran di kalangan pelajar/remaja, atau pertengkaran antar- kelompok masyarakat). Kegunaan dari ragam bimbingan ini kiranya tidak perlu diuraikan dengan panjang lebar, karena setiap manusia sudah mengetahui dari pengalamannya sendiri tentang akibat yang negatif, apabila timbul problem dalam pergaulan sosial.[A6] 
3. Bidang Bimbingan Akademik
                Bidang akademik ini menyangkut upaya pemberian bantuan kepada peserta didik  agar (1) mampu menemukan cara belajar yang tepat, (2) dapat emilih program studi yang sesuai dengan kemampuan dan minat, serta (3) dapat mengatasi kesukaran-kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan-tuntutan belajar di suatu institusi pendidikan[A7] . Sebagian besar waktu dan perhatian para siswa tercurah pada kepentingan belajar di sekolah. Keberhasilan atau kegagalan dalam belajar akademik sangat berarti sekali bagi siswa; seandaianya dia gagal maka dia cenderung akan mengalami frustasi dan keluarganya akan merasa sangat prihatin. Seperti banyak kehidupan yang lain, belajar di sekolah pada zaman sekarang juga menjadi makin kompleks, baik dalam hal jenis-jenis dan tingkatan-tingkatan program studi maupun dalam hal materi yang harus dipelajari. Kekeliruan dalam memilih program studi ditingkat pendidikan menengah atas dan pendidikan tinggi dapat membawa akibat fatal bagi kehidupan seseorang. Cara-cara belajar yang salah mengakibatkan materi program-program studi tidak dikuasai dengan baik, sehingga dalam mengikuti program studi  selanjutnya akan mengalami kesulitan. Bidang pendidikan sekolah dewasa ini sarat permasalahan, sebagian di antaranya menyangkut usaha-usaha belajar siswa. Tenaga bimbingan yang bertugas di institusi pendidikan formal harus mengetahui segala permasalahan yang menyangkut pendidikan sekolah dan seluk-beluk dari kegiatan psikis, yang disebut belajar. Pelayanan bimbingan akademik untuk sebagian besar disalurkan melalui kegiatan bimbingan kelompok , baik ditingkat pendidikan menengah maupun di pendidikan tinggi; untuk sebagian kecil disalurkan melalui bimbingan individual, terutama dalam wawancara konseling.
4. Bidang Bimbingan Karier
            Bidang karier merupakan upaya pemberian bantuan kepada peserta didik agar (1) memahami dunia kerja, (2) memiliki sikap positif terhadap pekerjaan, (3) mampu mempersiapkan diri untuk menghadapi dunia pekerjaan, (4) mampu memilih lapangan atau jabatan/profesi tertentu, (5) dapat membekali diri supaya siap memangku jabatan itu, serta (6) dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan dari lapangan pekerjaan yang telah dimasuki. Bidang pekerjaan sangat bermakna dalam kehidupan seseorang karena sebagian besar waktu dan perhatian dicurahkan pada kepentingan pekerjaan. Bilamana seseorang tidak merasa puas dalam bidang pekerjaannya, dia akan merasa frustasi [A8] dan tegang, dia mungkin akan pindah bidang pekerjaan hanya supaya dapat merasa lebih puas, lepas dari pertimbangan balas jasa. Dalam masyrakat tradisional di zaman lampau, memilih pekerjaan tidak merupakan tantangan bagi orang muda, karena dia mengikuti tradisi keluarga tanpa berfikir jauh-jauh. Dalam masyarakat modern, yang mengenal banyak variasi dalam jenis-jenis dan ragam-ragam pekerjaan, orang muda yang berfikir panjang sebelum melibatkan diri pada suatu bidang pekerjaan untuk jangka waktu yang lama. Keluarga sudah tidak mampu mendampingi anak muda dalam segala selak-beluk persiapan memangku jabatan tertentu. Dalam hal ini peranan sekolah menjadi semakin penting, baik dalam menyediakan berbagai program studi sebagai persiapan untuk memasuki dunia pekerjaan, maupun dalam menyajikan kegiatan-kegiatan bimbingan yang mencakup hal-hal yang berkaitan dengan dunia pekerjaan. Dewasa ini keharusan untuk memilih di antara beberapa kemungkinan memangku jabatan tertentu semakin mendesak, karena semakin tidak mungkin untuk menguasai beberapa bidang pekerjaan sekaligus, saat siswa mulai memikirkan hal pekerjaan berbeda-beda, ada siswa yang sudah mempunyai gambaran yang jelas setelah tamat sekolah menengah tingkat pertama, ada pula yang baru mulai berpikir secara serius selama duduk di bangku sekolah menengah tingkat atas.
B. Jenis-jenis Layanan Bimbingan
            Jenis-jenis bimbingan ini berkaitan dengan cara atau strateg[A9] i kegiatan bimbingannya, dalam rangka membantu peserta didik (siswa) memahami dirinya dan lingkungannya, sehingga dia dapat menerima, mengarahkan dan menyesuaikan dirinya secara positif dan konstruktif [A10] terhadap diri dan lingkungannya, serta mampu mempersiapkan dirinya dalam peran-peran social yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Jenis-jenis layanan bimbingan tersebut ialah sebagai berikut:
1.      Layanan Orientasi, yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan siswa dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan pengaruh besar kepada siswa (terutama orang tua) memahami lingkungan (seperti sekolah yang baru dimasukinya), untuk mempermudah dan memperlancar siswa berperan di lingkungan yang baru itu . Layanan ini diberikan dengan tujuan agar peserta didik memiliki (a) pemahaman akan situasi baru atau lingkungan yang akan dimasukinya, dan (b) kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi, peraturan, atau norma yang berlaku dalam lingkungan tersebut. Contoh: pada awal tahun ajaran baru, kepada para siswa diberikan orientasi tentang personel sekolah (pimpinan, guru-guru dan pegawai tata usaha), kurikulum sekolah, administrasi sekolah, sarana prasarana atau fasilitas belajar, tata tertib, kegiatan ekstrakurikuler[A11] , dan program bimbingan konseling.
2.      Layanan Imformasi, yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan siswa dan pihak-pihak lain yang memberikan pengaruh besar kepada siswa (terutama orang tua ) menerima dan memahami informasi, yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan. Materi layanan informasi dapat menyangkut: (a) aspek pribadi siswa, seperti : memahami diri (identitas/jati diri), pengembangan kesadaran beragama, mengelola emosi (stress), frustasi dan kiat-kiat mengatasinya, dan cara-cara memecahkan masalah dan mengambil keputusan; (b) aspek belajar seperti: cara-cara belajar yang efektif, cara membaca buku pelajaran, pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang positif, dan cara-cara mengatasi kesulitan belajar; (c) aspek sosial, seperti: etika pergaulan (seperti norma pergaulan pria-wanita, dan persahabatan), pengenalan norma atau nilai-nilai yang berlaku dalam kelurga, dan masyarakat, serta kemampuan menyesuaikan diri dengan norma-norma tersebut; dan (d) aspek karier, seperti: mengembangkan sikap positif terhadap pekerjaan, mengenal dunia kerja, dan cara-cara merencanakan dan mengambil keputusan karier.
3.      Layanan Bimbingan Penempatan dan Penyaluran, yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan siswa yang memperoleh penempatan dan penyaluran secara secara tepat sesuai dengan potensi, bakat dan minat serta kondisi pribadinya. Layanan ini misalnya penempatan/penyaluran di dalam kelas (seperti berdasarkan tinggi badan dan keberfungsian alat indera), kelompok belajar (seperti kelompok matematika, fisika, biologi, kimia, agama, dan ilmu-ilmu sosial), jurusan/program khusus, dan kegiatan ekstra kurikuler.
4.      Layanan Bimbingan Pembelajaran, yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan siswa mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi belajar yang cocok dengan kesepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. Ini berarti siswa yang memiliki “kemampuan lebih” atau cerdas dapat menyelesaikan program belajarnya. Kegiatan layanan ini dapat dilakukan oleh guru pembimbing, yaitu dengan cara pemberian imformasi tentang belajar (lihat layanan imformasi), membantu siswa dalam mengembangakan potensinya, atau membantu yang mengalami kesulitan belajar akibat dari masalah-masalah psikologis, dan juga dapat dilakukan oleh guru bidang studi, seperti: memberikan layanan program pengayaan[A12]   ( “entichment”), kepada siswa yang cerdas, dan program “remedial teaching” mengajar kembali) kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam beajarnya.
5.      Layanan Konseling Perorangan, yaitu layanan bimbingan yang memunkinkan siswa mendapatkan layanan lansung tatap muka dengan guru pembimbing dalam rangka pembahasan dan pememcahan permasalahan yang di hadapinya. Masalah-masalah ini mungkin berupa: stress atau frustasi, konflik-pribadi, dan kurang dapat konsentrasi dalam belajar.
6.      Layanan Bimbingan Kelompok, yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan sejumlah siswa secara bersama-sama memperoleh bahan dari nara sumber tertentu (terutama dari guru pembimbing) yang berguna untuk menunjang kehidupannya sehari-hari, sebagian individu, sebagian pelajar, dan anggota keluarga dan masyarakar; dan umtuk pertimbangan ataupun pengambilan keputusan tertentu. Kegiatan layanan ini bisa ditempuh melalui pemberian imformasi, diskusi kelompok, “brain storming” (curah pendapat), “role playing” ( bermain peran) atau sosioddrama, dan karyawisata.
7.      Layanan Konseling Kelompok, yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan siswa yang memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pemecahan permasalahan melalui dinamika kelompok. Para siswa satu sama lainnya bisa melakukan “sharing” masalah dan cara-cara memecahkannya.
5.4 Hubungan Bimbingan dengan Pendidikan
            Secara formal kedudukan bimbingan dalam sistem pendidikan di Indonesia telah digariskan dalam perundang-undang dan peraturan pemerintah. Misalnya dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional beserta perangkat Peraturan Pemerintah, yaitu PP Nomor 28 dan 29 tahun 1990. Kandungan dari undang-undang dan peraturan pemerintah yang menyangkut bimbingan itu masing-masing sebagai berikut :
1.      Undang-undang Nomor 20tahun 2003, Bab I, ayat 1, pasal 1 brbunyi “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif  mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan Negara”.
2.      Perturan Pemerintah Nomor 28 tahun 1990, pasal 25 dan Peraturan Pemerintahan Nomor 29 tahun 1990, pasal 27 dikemukakan  bahwa (1)  Bimbingan merupakan yang bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan , dan merencanakan masa depan. (2) Bimbingan dibeikan oleh guru pembimbing. Pengakuan formal seperti ini mengandung arti bahwa layanan bimbingan perlu dilaksanakan secara terprogram dan ditangani oleh orang yang memiliki kemampuan untuk itu. Untuk pendidikan saat ini, dengan memperhatikan karakterstik dan kebutuhan siswa.
Bimbingan dipandang sebagai salah satu komponen yang tak terpisahkan dari komponen-komponen lainnya. Di Indonsia perkembangan bimbingan dimulai dalam bidang pendidikan khususnya pendidikan formal di sekolah. Kurikulum 1975 dan 1976 merupakan wadah formal bagi pelaksanaan bimbingan dan pendidikan di sekolah. Dengan adanya kebijakan pemerintah untuk menyempurnakan kurikulum mennjadi kurikulum yang lebih sesuai dengan tuntutan masyarakat yang kemudian dikenal dengan  “Kurikulum 1984”, kemudian berkembang lagi menjadi “Kurikulum 1994” dan sekarang “Kurikulum Berbasis Kompetensi”. Sesuai dengan kebijakan pemerintah, pendidikan diartikan sebagai suatu usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian yang berlangsung di sekolah maupun di luar sekolah dan berlangsung semur hidup. Sedangkan tujuan pendidikan sebagaimana dikemukakan dalam GBHN adalah “untuk meningkatkan keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersa-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa “. Dari pengertian dan tujuan di atas, jelas yang menjadi tujuan inti dari pendidikan  adalah perkembangan kepribadian secara optimal dari setiap anak didik  sebagai pribadi. Dengan demikian setiap kegiatan proses pendidikan diarahkan kepada tercapainya pribadi-pribadi yang berkembang , maka kegiatan pendidikan  hendaknya bersifat menyeluruh, yang tidak hanya berupa kegiatan pembelajaran (pengajaran), akan tetapi meliputi kegiatan yang menjamin bahwa setiap anak didik secara pribadi mendapat layanan  sehingga akhirnya dapat berkembang secara optimal. Dengan demikian maka hasil  pendidikan sesungguhnya akan tercermin pada pribadi anak didik  yang berkembang baik secara akademik, psikologis, maupun sosial.
      Kalau kita menyimak kenyataan yang dihadapi dunia pndidikan di Indonesia pada umumnya, yaitu membantu setiap pribadi peserta didik, belum sepenuhnya dapat membantu perkembangan kepribadiannya secara optimal
Pertama, secara akademis masih banyak nampak gejala bahwa peserta didik belum mencapai prestasi belajar secara optimal. Hal ini Nampak antara lain dalam gejala-gejala; putus sekolah, tinggal kelas, lambat belajar, berprestasi rendah, kekurang percayaan masyarakat terhadap hasil pendidikan, dan sebagainya.
Kedua, secara psikologis, masih banyak gejala perkembangan kepribadian yang kurang matang, gejala tidak sesuai, kurang percaya pada diri sendiri, kecemasan, putus asa, bersikap santai, kurang responsif[A13] , ketergantungan, pribadi yang tidak seimbang, dan sebagainya.
Ketiga, secara social ada kecenderungan peseta didik belum memiliki penyesuaian social secara memadai, seperti: tawuran/perkelahian antar pelajar (antara pemuda) pelanggaran tata tertib sekolah, konflik dengan  teman, konflik dengan guru, atau konflik dengan anggota keluarga.
Keempat, secara moral masih banyak peserta didik yang memiliki kesadaran moralitas[A14]  atau kesadaran beragama yang kurang memadai, hal ini ditunjukkan dengan perilaku seperti: kriminalitas, free sex (zina atau hubungan seksual di luar pernikahan), meminum minuman keras, menggunakan obat-obat terlarang, narkotika, ganja, sabu-sabu, extacy, dan pemerkosaan.
Sehubungan dengan hal itu layanan bimbingan dirasakan amat berperan dalam membantu proses dan pecapaian tujuan pendidikan secara paripurna.[A15]  Melalui bimbingan, proses pendidikan dapat memfasilitasi para peserta didik untuk mengebangkan potensi dirinya menjadi manusia yang bermakna, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

BAB VI
PERANAN GURU DALAM MEMBIMBING DAN KONSELING

6.1 Peran Kepembimbingan Guru dalam Pembelajaran di Sekolah
A. Aspek-Aspek yang Perlu Dipertimbangkan dalam Belajar di Sekolah
      Sampai saat ini dalam sistem pendidikan di sekolah, layanan bimbingan menjadi tugas guru bimbingan konseling (BK). Namun demikian pelaksanaan bimbingan di sekolah tetap menghendaki dukungan manajerial yang memdai. Mengingat hal-hal seperti itu, maka dalam upaya penyelenggaraan layanan bimbingan di sekolah perlu di pertimbangkan aspek-aspek sebagai berikut ini.
a.      Aspek Program
Program bimbingan perlu dikembangkan berdasarkan pada kebutuhan dan masalah nyata yang ada di sekolah . Program bimbingan di sekolah bisa menyangkut bimbingan belajar pribadai dan sosial serta bimbingan karir. Sementara itu isi bimbingan dari jenis bimbingan tersebut perlu dikembangkan scara relevan dengan konsep dan kebutuhan nyata yang dihadapi para peserta didik di dalam perkembangannya. Perangkat tugas yang harus di selesaikan peserta didik dapat menjadi panduan umum bagi perkembangan program bimbingan di sekolah.

b.      Aspek ketenagaan
Dengan mempertimbangkan kondisi dan sistem yang berlaku selama ini di sekolah, guru BK dipandang sebagai personil yang paling mungkin melaksanakan layanan bimbingan. Jika demikian halnya maka petugas Bimbingan konseling perlu memiliki pemahaman yang tepat dan keterampilan yang memadai untuk melaksanakan layanan bimbingan.
c.       Aspek Prosedur/Teknik
Seperti diungkapkan di atas bahwa bimbingan di sekolah lebih berorientasi kepada pengembangan. Oleh karena itu sistem pelayanan bimbingan di sekolah menghendaki keterpaduan antara pendekatan dan teknik pembelajaran dan transaksional. Pengembangan iklim pembelajaran yang kondusif[A16]  bagi pengembangan perilaku efektif baik yang menyangkut pengembangan perilaku belajar, pribadi dan sosial, serta perkembangan karir sebagai strategi yang efektif[A17]  untuk digunakan di sekolah.
d.      Daya Dukung Lingkungan
Bimbingan adalah sub sistem yang terpadu dalam sistem pendidikan sekolah. Proses bimbingan hanya akan berjalan dengan baik jika mendapat tempat yang layak dalam sistem itu, sehingga layanan bimbingan akan dirasakan memberikan kontribusi [A18] terhadap pencapaian tujuan pendidikan. Para guru bukanlah petugas yang dapat bekerja sendiri tanpa bantuan dan dukungan manajerial, sosial, maupun sarana fisik yang merupakan salah satu faktor penting dari upaya peningkatan mutu pelaksanaan bimbingan di sekolah.
B. Organisasi dan Administrasi Bimbingan di Sekolah
a. Organisasi
            Pelaksanaan bimbingan di sekolah saat ini dilaksanakan oleh guru BK. Pemerintah sebetulnya telah memilih rencana untuk mengangkat guru pembimbing sesuai dengan PP 38 tentang  Tenaga Kependidikan, paling tidak untuk suatu kecamatan seorang guru pembimbing. Dengan telah diadakannya kelas unggulan, kebutuhan akan guru pembimbing semakin dirasakan. Beberapa sekolah swasta telah mengangkat guru pembimbing, namun masih paru waktu dan bernaung dalam yayasan yang sama.
            Menurut pengamatan dilapangan, sebetulnya ada guru yang memiliki latar belakang bimbingan. Namun demikian saat ini para guru yang berlatar belakang pendidikan bimbingan dan konseling belum diberikan tugas secara khusus. Mekanisme organisasi dan administrasi  bimbingan di SD telah digariskan dalam buku Petunjuk Bimbingan dan Konseling di sekolah (Depdikbud, 1994) seperti diuraikan dalam bagian berikut ini.
b. Uraian Tugas Personil
            Tugas dan tanggung jawab setiap personel dalam kegiatan layanan bimbingan sehingga dapat memahami tugas-tugasnya dan melaksanakannya sesuai dengan tugas masing-masing.
1)      Kepala sekolah
Sebagai penanggung jawab kegiatan pendidikan, termasuk layanan bimbingan tugas Kepala Sekolah adalah sebagai berikut:
a.       Mengkoordinasikan[A19]  kegiatan layanan bimbingan
b.      Menyediakan tenaga, sarana dan fasilitas yang diperlukan
c.       Melakukan supervise[A20]  terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian kegiatan layanan bimbingan

2)      Guru Kelas/Wali Kelas/Guru Bimbingan Konseling
      Sebagai pelaksanaan pelayanan bimbingan guru kelas /wali/guru pembimbing bertugas sebagai berikut:
a.       Merencanakan program bimbingan, termasuk rencana mengidentifikasi siswa bermasalah (anak berbakat, anak berkelainan)
b.      Melakukan koordinasi dengan kepala sekolah dan guru mata pelajaran/ guru bidang studi
c.       Melaksanakan kegiatan layanan bimbingan dengan mengidentifikasi mata pelajaran atau bidang studi masing-maing
d.      Menilai proses dan hasil layanan bimbingan
e.       Menganalisa hasil penilaian layanan bimbingan
f.        Melaksanakan tindak lanjut atau alih tangan berdasarkan hasil penilaian
g.      Membantu siswa dalam kegiatan ekstra kurikuler

3)      Guru Mata Pelajaran/Guru bidang studi
a.       Melaksanakan bimbingan melalui proses pembelajaran sesuai dengan mata pelajaran
b.      Berkonsultasi dengan wali kelas/guru pembimbing dalam hal masalah-masalah yang berkaitan dengan bimbingan
c.       Bekerja sama dengan wali kelas/guru pembimbing dalam hal pengembangan program bersama/terpadu
C .Pengawasan
                Untuk menjamin layanan bimbingan secara tepat diperlukan kegiatan pengawasan bimbingan baik secara teknis baik secara administratif . Fungsi pengawasan layanan  bimbingan adalah memantau, menilai, memperbaiki, meningkatkan dan mengembangkan  kegiatan layanan bimbingan  di sekolah. Kegiatan pengawasan dilaksanakan mulai tingkat nasional, wilayah,  kabupaten dan kecamatan.

d. Sarana dan Prasarana
            Program yang telah disusun  sedemikian rupa, dapat terlaksana dengan efektif apabila didukung oleh tersediannya sarana dan prasarana yang memadai sesuai dengan kekhususan layanan bimbingan.
Sarana yang diperlukan untuk menunjang  layanan bimbingan adalah:
1)      Alat pengumpul data. Seperti: format-format, pedoman observasi, pedoman wawancara, angket, catatan harian, daftar nilai prestasi belajar,  kartu konsultasi dan sebagainya.
Contoh-contoh alat pengumpul data dapat dipelajari pada bahasan tentang teknik-teknik memahami  perkembangan siswa.
2)      Alat penyimpanan data seperti: kartu pribadi,buku pribadi, map, dan sebagainya.
3)      Perlengkapan teknis seperti: buku pedoman/petunjuk, buku imformasi (pribadi-sosial, pendidikan dan karir), paket bimbingan (pribadi belajar dan karir).
4)      Perlengkapan administratif. Seperti blangko surat, agenda surat, alat-alat tuis, dan sebagainya.
Prasarana penunjang layanan bimbingan antara ain:
1)      Ruang Bimbingan
2)      Guru Bimbingan Konseling dalam melaksanakan layanan  bimbingan bisa saja menggunakan kelas sebagai tempat berkonsultasi ataupun diskusi disamping pemanfaatan fasiitas lainnya seperti ruang perpustakaan dan sebagainya. Dalam kondisi ideal ruang bimbingan terdiri atas: ruang tamu, ruang konsutasi, ruang diskusi, dan ruang dokumentasi, dan sebagainya. Ruang-ruang tersebut sebaiknya dilengkapi dengan perabotan seperti  meja, kursi, lemari, papan tulis, rak dan sebagainya.
e. Anggaran biaya
      Anggaran biaya diperlukan untuk menunjang layanan bimbingan seperti  biaya surat-menyurat, transfortasi, penataran, pembelian alat, dan sebagainya.

f.Kerja sama
      Layanan bimbingan yang efektif tidak mungkin terlaksana dengan baik tanpa adanya kerjasama wali kelas/ guru kelas dengan pihak-pihak  yang terkait di dalam maupun di luar sekolah:
1)      Kerjasama dengan pihak di dalam sekolah. Kerjasama di dalam sekolah antara lain: wali kelas dengan guru mata pelajaran/bidang studi lainnya serta tenaga administrasi sekolah.
2)      Kerjasama dengan baik di luar sekolah. Kerjasama dengan baik di luar sekolah antara lain: orang tua murid, Badan pembantu Penyelenggara Pendidikan atau BP3, Organisasi profesi seperti: IPBI (Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia), Puskesmas, Psikolog, lembaga pemerintah dan swasta serta organisasi kemasyarakatan  yang relevan.

C. Peran Kepembimbingan Guru dalam Proses Pembelajaran
      Merujuk kepada aspek-aspek perkembangan yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu, bimbingan di sekolah dapat digolongkan ke dalam bimbingan belajar, pribadi, sosial, dan juga karir. Walaupun secara teoritik ke empat jenis bimbingan itu dapat dibedakan, tetapi dalam praktik satu sama lain akan terkait erat dan tak dapat dibedakan dan tak dapat dipilah-pilah secara tegas.
      Jika dilihat dari target populasi khusus seperti dikemukakan dibagian depan dalam bab ini, bimbingan di sekolah selain melayani siswa normal pada umumnya juga sangat mungkin dituntut untuk melayani siswa atau peserta didik yang berbakat, berkesulitan belajar, dan berperilaku bermasalah. Keempat aspek perkembangan diatas juga akan menjadi subtansi atau isi dari layanan bimbingan bagi peserta didik yang termasuk ke  populasi khusus tersebut, sesuai dengan karateristik masing-masing kelompok itu. Secara ringkas layanan bimbingan yang dimaksud, dibahas berikut ini:
a.      Bimbingan Belajar
Bimbingan belajar diarahkan kepada upaya membantu peserta didik dalam melengkapi konsep dan keterampilan yang terkait dengan program kurikuler sekolah, jelasnya di dalam  berbagai bidang studi, bimbingan belajar di sekolah akan terpadu denga proses pembelajaran yang berorientasi kepada perkembangan peserta didik. Prinsip-prinsip yang terkandung dalam pendekatan perkembangan dalam pembelajaran seperti dibahas pada Bab yang lalu, juga akan menjadi rujukan bagi bimbingan belajar di dalam proses pembelajaran. Kepedulian guru terhadap individual peserta didik merupakan hal penting sebagai dasar penentuan jenis bantuan kepadanya. Dalam proses bimbingan belajar, sangat mungkin guru dituntut memberikan layanan kepada peserta didik secara individual atau perorangan.
b.      Bimbingan Pribadi
Bimbingan pribadi lebih berfokus kepada upaya membantu peserta didik mengembangkan aspek-aspek kepribadian yang menyangkut pemahaman diri dan lingkungan, kemampuan memecahkan masalah, konsep diri, kehidupan emosi, dan identitas diri. Layanan bimbingan pribadi amat erat kaitannya dengan membantu peserta didik menguasai tugas-tugas perkembangan sesuai dengan tahap perkembangannya.
Sama halnya dengan bimbingan belajar, layanan bimbingan pribadi ini pun akan banyak terwujud dalam bentuk penciptaan iklim lingkungan pembelajaran dan kehidupan sekolah. Dilihat dari sudut bimbingan, proses pembelajaran di sekolah merupakan wahana untuk mengembangkan aspek-aspek kepribadian yang disebutkan di atas. Oleh karena itu guru di sekolah memegang peran yang amat penting di dalam mengembangkan iklim pembelajaran sebagai wahana perkembangan pribadi peserta didik.
Bertolak dari orientasi ekologi perkembangan manusia dalam bimbingan, peran guru dalam membantu perkembangan pribadi peserta didik  adalah dalam ha-hal berikut ini:
1)      Bersikap peduli terhadap anak. Sikap peduli berbeda dari mencintai; peduli mengandung arti memberi perhatian penuh kepada peserta didik sebagai seorang pribadi dan memahami apa yang terjadi pada dirinya. Sikap seperti ini memungkinkan guru mampu menyentuh dunia kehidupan individual peserta didik dan terbentuknya suatu relasi yang bersifat membantu (helping relationship).
2)      Bersikap Konsisten. Konsisten bukan dalam arti memberikan hukuman atau ganjaran yang seragam terhadap perbuatan sama yang dilakukan peserta didik. Hal penting dari sikap konsisten ini ialah bagaimana membantu peserta didik untuk merasakan konsekuensi[A21]  tindakannya dan bukan karena kesamaan perlakuan yang diberikan guru. Prinsip konsisten ini mengandung implikasi bahwa peristiwa-peristiwaan di dalam kelas harus memungkinkan peserta didik memahami posisi dan peran dirinya dan mengembangkan kemampuan untuk mengendalikan perilakunya.
3)      Mengembangkan lingkungan yang stabil. Guru harus berupaya mengembangkan upaya struktur program dan tatanan yang dapat menumbuhkan perasan peserta didik bahwa  dirinya hidup dalam dunia yang memiliki keteraturan, stabilitas, dan tujuan. Lingkungan seperti ini akan membantu pengembangan diri peserta didik; sedangkan lingkungan yang tidak menentu, penuh stress dan kecemasan akan menumbuhkan frustasi dan perilaku tidak sesuai.
4)      Bersikap permisif. Sikap permisif ialah memberikan keleluasan dan menumbuhkan keberanian  peserta didik untuk menyatakan diri dan kemampuannya, serta sikap toleran terhadap kekeliruan dan keragaman perilaku peserta didik.

c.       Bimbingan Sosial
Jika guru mengamati anak-anak  yang ada di kelas, katakanlah sebanyak 30 orang, mungkin mereka tidak berbentuk kelompok melainkan hanya sekumpulan individu dengan minat, kebutuhan dan tujuan yang berbeda. Interaksi satu sama lain bisa jadi masih didasarkan atas orientasi ogosentrik dan belum merupakan interaksi sosial di dalam kelompok. Bimbingan sosial diarahkan kepada upaya membantu peserta didik mengembangkan keterampilan sosial atau keterampilan berinteraksi didalam kelompok. Keterampilan sosial yaitu kecakapan berinteraksi dengan orang lain dan cara-cara yang digunakan didalam berinteraksi tersebut sesuai dengan aturan dan tujuan dalam konteks kehidupan sosial tertentu. (Combs & Slaby, 1977; Trower, 1980; Cartledge & Milburn, 1992). Di dalam kehidupan anak sekolah, kecakapan tersebut adalah kecakapan interaksi dengan kelompok teman sebaya atau orang dewasa. Jika kembali kepada pendekatan perkembangan dalam pembelajaran , maka proses pembelajaran itu akan menjadi wahana juga bagi perkembangan sosial peserta didik. Ini berarti bahwa bimbingan sosial dapat berlangsung di dalam dan secara terpadu dengan proses pembelajaran. Dilihat dari sudut bimbingan , proses pembelajaran merupakan wahana bagi pengembangan keterampilan sosial, kesadaran saling bergantung, dan kemampuan menerima dan mengikuti aturan kelompok.
Peran penting yang perlu dimainkan guru dalam kaitannya dengan layanan bimbingan sosial ialah mengembangkan atmosfir kelas. atmosfir kelas yang kondusif[A22]  bagi perkembangan sosial ialah yang dapat menumbuhkan:
1.      Rasa turut memiliki kelompok, ditandai dengan identifikasi, loyalitas, dan berorientasi pada pemenuhan kewajiban kelompok;
2.      Partisipasi kelompok, ditandai dengan kerjasama, bersikap membantu; dan mengikuti aturan main
3.      Penerimaan terhadap keragaman individual dan kelompok dan menghargai keistimewaan orang lain.
Untuk menumbuhkan atmosfir kelas seperti itu, upaya yang dapat dilakukan guru dalam proses pembelajaran ialah mengembangkan pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Pembelajaran koperatif adalah pembelajaran yang bergantung kepada kelompok kerja kecil yang mengkombinasikan (1) tujuan kelompok atau dukungan tim, (2) tanggung jawab individual, dan (3) kesamaan kesempatan untuk sukses (James M. Cooper, 1990). Di dalam pembelajaran kooperatif akan terjadi dukungan tim berupa bantuan sebaya di dalam mempelajari tugas-tugas akademik. Bantuan atau dukungan seperti ini akan melintasi hal-hal akademis dan akan menumbuhkan ikatan sosial di dalam kelompok. Sebagai contoh, seorang anak yang pandai didorong untuk membantu anak yang kurang pandai di dalam kelompoknya untuk menyelesaikan tugas kelompok secara bersama-sama.
Tanggung jawab individual akan tumbuh karena setiap peserta didik dituntut untuk mempelajari dan menguasai tugas-tugas pembelajaran secara sungguh-sungguh. Dalam pembelajaran kooperatif guru harus meyakinkan peserta didik , bahwa hasil kerja itu adalah hasil kelompok oleh karena itu setiap orang harus ambil bagian dalam menyelesaikan tugas kelompok tersebut. Tingkat tanggung jawab individual tetap diukur melalui asesment tingkat penguasaan bahan ajar.
Kesempatan untuk sukses akan diperoleh setiap peserta didik dalam upaya memberikan urunan kepada prestasi kelompok. Upaya semua peserta didik akan dihargai sesuai dengan tingkat prestasi yang dicapainya; penilaian diberikan atas dasar upaya yang dilakukan.
d.      Bimbingan Karir
Bimbingan karir di sekolah diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran dan pemahaman peserta didik akan ragam kegiatan dan pekerjaan di dunia sekitarnya, pengembangan sikap positif terhadap semua jenis pekerjaan dan orang lain, dan pengembangan kebiasaan kebiasaan hidup yang positif. Bimbingan karir disekolah juga terkait erat dengan upaya membantu peserta didik memahami apa yang disukai dan tak disukai, kecakapan diri, disiplin, mengontrol kegiatan sendiri. Layanan bimbingan karir sangat erat kaitannya dengan tiga layanan bimbingan lainnya karena kecakapan-kecakapan yang dikembangkan di dalam bimbingan belajar, pribadi, maupun sosial akan mendukung perkembangan karir peserta didik.
Bailey dan Nihlen (1989) menyarankan program pengembangan kesadaran karir di sekolah khususnya di sekolah lanjutan, hendaknya dikembangkan secara terpadu dan mencakup hal-hal berikut ini:
1)      Imformasi yang difokuskan kepada tanggung jawab dan struktur pekerjaan.
2)      Penyediaan waktu dan kesempatan bagi peserta didik untuk berbagi pengetahuan tentang dunia kerja dan pengalaman yang diperolehnya dari orang-orang sekitar tentang berbagai pekerjaan.
3)      Kesempatan bagi peserta didik untuk berinteraksi dengan orang-orang yang bekerja disekitarnya. Interaksi ini, akan menjembatani anak dengan dunia kerja.
4)      Kesempatan bagi peserta didik untuk mengetahui bagaimana orang merasakan pekerjaan atau profesi yang dipilihnya.
5)      Kesempatan bagi peserta didik untuk mengenali peran faktor jenis kelamin (gender) dalam pekerjaan.

6.2 Membantu Siswa Bermasalah
Berikut ini adalah salah satu contoh masalah-masalah yang dihadapi para siswa di sekolah dasar seperti diungkapkan dalam hasil penelitian Prayitno, terdapat sepuluh masalah pokok yang dirasakan siswa sekolah dasar seperti tampak dalam table berikut ini.




Sepuluh masalah utama yang Dihadapi Siswa SD di Kodya Padang ( dalam %)
  
      Murid-murid seperti diatas, perlu mendapat bantuan dari guru, agar mereka dapat melaksanakan kegiatan belajar secara baik dan terarah. Dan masalah-masalah tersebut tidak selalu dapat (harus) diselesaikan dalam situasi pembelajaran di kelas, melainkan memerlukan pelayanan secara khusus oleh guru di luar situasi proses pembelajaran. Banyak ragam masalah yang dihadapi siswa, namun dalam kegiatan belajar ini akan lebih difokuskan kepada masalah kesulitan belajar. Alasannya karena masalah belajar yang dihadapi siswa biasanya merupakan akumulasi dari masalah-masalah lain yang    
        


              
  
           

 [A1]Pengertian karateristik menurut kamisa, adalah sifat-sifat , kejiwaan, akhlak, dan budi pekerti dapat membuat seseorang terlihat berbeda dari orang lain.
 [A2]Moralitas adalah kualiatas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas , mencakup tentang baik buruknya tentang perbuatan manusia. (W.Poespoprojo)
 [A3]AIDS: Acquired Immunodeficiency  Syndrome
 [A4]Konstruktif: adalah suatu yang bersifat membangun, membina, memperbaiki.
 [A5]Multibudaya adalah  pandangan bahwa terdapat banyak latar belakang  dan faktor budaya dan faktor budaya berbeda yang penting dalam organisasi.
 [A6]Arti kata sosial menurut KBBI adalah berkenaan dengan masyarakat, suka memperhatikan kepentingan umum, suka menolong dan menderma.
 [A7]Institusi Pendidikan adalah lembaga atau badan yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan
 [A8]Suatu harapan yang diinginkan dan kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan
 [A9]Adalah pendekatan secara keseluruhan  yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan dan perencanaan sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu.
 [A10] Adalah suatu yang bersifat membangun, membina, dan memperbaiki
 [A11]Kegiatan non-pelajaran formal yang dilakukan peserta didik, umumnya diluar jam belajar kurikulum standar.
Ditujukan agar siswa dapat mengembangkan kepribadian, bakat, dan kemampuannya di berbagai bidang di luar bidang akademik.
 [A12]Memberikan tambahan /perluasan pengalaman atau kegiatan peserta didik yang teridentifikasi melampaui ketuntasan belajar yang ditantukan oleh kurikulum.
 [A13]Defenisi responsive: cepat merespon; bersifat menanggapi; tergugah hati; bersifat memberi tanggapan  (tidak masa bodoh).
 [A14]Adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk.
 [A15]Menurut KBBI adalah penuh atau lengkap.
 [A16]Sikap tenang dan teratur
 [A17]Sesuatu pekerjaan yang dapat diselesaikan tepat waktu.
 [A18]Aadalah sesuatu yang dilakukan untuk membantu menghasilkan ataumencapai sesuatu bersama-sama dengan orang lain.
 [A19]Aadalah serangkaian kegiatan untuk mempersatukan sumbangan dan saran dar parai anggota organisasi, bahan dan sumber-sumber lain yang terdapat dalam organisasi itu kearah pencapaian tujuan-tujuan yang telah disepakati bersama.
 [A20]Defenisi supervise pembinaan yang berupa tuntunan atau pembinaan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya serta peningkatan mutu mengajar, belajar, dan juga belajar pada khususnya.
 [A21]Dampak yang terjadi jika suatu keputusan tertentu diambil.
 [A22]Sikap tenang dan teratur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SOAL PENILAIAN TENGAH SEMESTER GENAP KELAS IX, PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN