APA ITU KITAB SUCI
48telah memberikan hidup-Nya bagi kita. Seberapa besar pengkhianatan itu, karena dosa merupakanperilaku hasil pilihan kita sendiri, yang dengan sengaja berpaling dari keyakinan rohani kita (Luk 22:47-48)? Bertahun-tahun Yudas hidup bersama dengan Yesus dan duduk di kaki-Nya untuk mendengarajaran-Nya. Namun, karena hatinya tidak benar-benar mau diubahkan oleh kuasa Roh Kudus, maka dia jatuh ke dalam godaan Setan. Sebagai orang-
percaya, kita diminta untuk “menyelidiki diri kita” sendiri
untuk melihat apakah kita tetap tegak di dalam iman (2 Kor 13:5).
Perhentian ke-3: Yesus diadili di hadapan Mahkamah Agama (Luk 22:66-71).
Mahkamah Agama (atau Sanhedrin), yang terdiri dari tujuh puluh imam dan ahli-ahli Taurat sertaseorang imam besar, menuntut agar Pilatus menghukum mati Yesus. Kejadian ini mengingatkan orangKristen untuk berhati-hati agar tidak meninggikan diri dengan cara menghakimi orang lain. PengetahuanAlkitab dan posisi rohani yang tinggi di dunia tidak menjamin seseorang menjadi sempurna dan kudus.Pikiran yang penuh kesombongan dapat menjatuhkan seseorang, bahkan orang yang paling salehsekalipun. Alkitab mengajarkan kita untuk menghormati posisi pihak yang berwenang, namun padaakhirnya pemegang pemerintahan tertinggi dalam hidup kita adalah kehendak Allah dan Firman Allah.Orang Kristen telah dibaptis oleh Roh Kudus, sehingga Roh Kudus sendiri yang akan menghibur,mengajar, dan memimpin mereka dalam segala situasi, mengijinkan mereka untuk mengambil setiapkeputusan sesuai dengan kehendak Allah. Roh Kudus pada dasarnya meniadakan kebutuhan orangKristen terhadap pemimpin agama seperti Mahkamah Agama pada masa Yesus. Kepercayaan yangdiberikan orang Yahudi kepada Mahkamah Agama untuk memegang kewenangan tertinggi dalamagama menyebabkan terjadinya korupsi di antara para iman dan ahli-ahli Taurat. Pada saat Yesus mulaimengajarkan doktrin yang mengganggu otoritas mereka, mereka pun merencanakan untuk melawanDia, dan akhirnya menuntut kepada pemerintah Romawi agar Dia disalibkan (Luk 22:66-71).
Perhentian ke-4: Petrus menyangkal Yesus (Luk 22:54-62).
Setelah Yesus ditangkap, sejumlah orang yang hadir di rumah Imam Besar saat itu menuduh Petrussebagai salah satu pengikut-Nya (Luk 22: 54-62). Seperti yang telah dinyatakan oleh Yesus sebelumnya,Petrus menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Petrus merupakan murid yang dikasihi dan dipercaya olehYesus, yang telah menyaksikan banyak mukjizat secara langsung, bahkan ia pernah berjalan di atas airbersama Yesus (Mat 14:29-31). Meskipun begitu, Petrus menunjukkan kelemahannya sebagai manusiadengan menyangkal Yesus karena takut ditangkap bersama Yesus.Orang Kristen di seluruh dunia masih menghadapi penganiayaan dan penghinaan dari orang yang tidakpercaya di dalam masyarakat, mulai dari pelecehan verbal hingga penyiksaan fisik, bahkan kematian.Orang-orang mungkin menghakimi Petrus karena penyangkalannya terhadap Yesus dan ketakutannyaterhadap apa yang akan orang Romawi lakukan jika mereka mengetahui hubungannya dengan Yesus.Namun, ada berapa orang Kristen yang berani untuk tetap menyatakan iman mereka saat menghadapidiskriminasi, baik diskriminasi pribadi maupun diskriminasi publik?Diam menunjukkan kelemahan dari manusia. Iman Petrus pada saat itu adalah iman yang tidaksempurna, karena Roh Kudus tidak tinggal diam di dalam dia. Setelah Roh Kudus dicurahkan pada hariPentakosta untuk tinggal diam di hati orang-percaya (Kis 2), Petrus menjadi singa iman yang gagahberani; tidak pernah takut lagi untuk mengakui Allahnya.
Perhentian ke-5: Yesus diadili oleh Pontius Pilatus (Luk 23:13-25).
Dengan standar hukum saat ini, tidak mungkin Yesus dinyatakan bersalah dalam pengadilan apapun,terutama karena tidak adanya bukti nyata yang dapat digunakan untuk melawan Dia. Pontius Pilatustidak mendapati kesalahan terhadap apapun yang dilakukan Yesus dan ingin melepaskan Dia (Luk 23:13-24), namun Mahkamah Agama menuntut agar Pilatus mengeksekusi Yesus. Mahkamah Agama, yangmemerintah berdasarkan tradisi dan Hukum Musa yang ketat, menganggap Yesus sebagai ancamanbesar terhadap otoritas mereka atas orang Yahudi. Yesus mengajar orang-orang bahwa keselamatanadalah kasih karunia dari Allah dan bukan hasil dari ketaatan terhadap ajaran yang ditetapkan olehMahkamah Agama.Ajaran Yesus ini tidak hanya meruntuhkan otoritas mereka sebagai pemimpin agama, namun jugamenjadi ancaman yang serius terhadap kehidupan mereka. Bahkan sampai saat ini, pengajaran kalaukeselamatan itu datang melalui kuasa dan pilihan Allah, bukan oleh usaha manusia sendiri, tidaklahpopuler. Manusia, dengan sifat dasarnya, selalu ingin memperoleh keselamatan dengan usahanyasendiri, atau setidaknya memiliki bagian di dalam keselamatan itu, sehingga kita bisa mendapatkan,
49setidaknya, sebagian dari kemuliaan itu. Namun keselamatan itu adalah milik Allah, yang tidak akanmemberikan kemuliaan-Nya kepada yang lain (Yes 42:8).
Perhentian ke-6: Yesus dicambuk dan dimahkotai dengan duri (Mrk 15:15-17).
Peristiwa ini merupakan penggenapan terhadap nubuatan yang tercatat di dalam Yes 53:3-6.Penyembuhan yang dimaksud pada bagian ini adalah penyembuhan rohani, atau penyembuhan daridosa. Pengampunan dosa dan pemulihan hubungan dengan Allah, seringkali digambarkan sebagaitindakan penyembuhan. Lebih dari lima ratus tahun yang lalu, sebelum Maria melahirkan Yesus, Yesayamenubuatkan bahwa Yesus akan tertikam oleh karena pemberontakan kita (Yes 53:3-6) dan akandiremukkan oleh karena kejahatan kita, dan oleh bilur-Nya kita menjadi sembuh.
Perhentian ke-7: Yesus memikul salib (Yoh 19:17).
Saat Yesus memikul salib-Nya, Dia membawa lebih dari sekedar kayu salib. Para penonton tidakmengetahui bahwa pada hari itu Yesus menanggung dosa seluruh umat manusia, menghadapi hukumanyang pantas didapatkan oleh dosa-dosa tersebut, yang akan Dia derita demi umat manusia. Yesus
menegaskan dalam Matius 16:24, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya,
mem
ikul salibnya dan mengikut Aku.” Dia mengatakan bahwa hal ini bukanlah sebuah pilihan:“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi
-
Ku” (Mat 10:38).
Dengan memikul salib, sebuah alat kematian, berarti kita mematikan diri kita sendiri untuk hidupkembali sebagai ciptaan baru (2 Kor 5:17) di dalam pelayanan dan ketaatan kita kepada Kristus. Iniberarti menyerahkan kehendak kita kepada Allah; termasuk kasih, ambisi dan semua keinginan kita.Tujuan tertinggi kita bukan lagi mencari kebahagiaan diri kita sendiri melainkan dengan relameninggalkan segala sesuatu dan menyerahkan seluruh hidup kita jika diperlukan.
Perhentian ke-8: Simon dari Kirene menolong Yesus memikul salib (Luk 23:26).
Simon dari Kirene bisa dianggap sebagai korban dari keadaan. Simon sepertinya datang ke Yerusalemuntuk merayakan Paskah dan mungkin hanya sedikit mengetahui mengenai peristiwa yang sedangterjadi. Sedikit sekali yang kita ketahui tentang Simon dari Kirene karena dia tidak lagi disebutkan dalamAlkitab setelah menolong Yesus memikul salib yang akan digunakan untuk menyalibkan-Nya (Luk 23:26).Karena diperintah oleh tentara Romawi, Simon tidak dapat menolak. Bisa jadi karena Simonmenguatirkan hidupnya sendiri pada situasi tersebut. Tidak seperti Yesus yang dengan rela memikul
salib, Simon dari Kirene “didorong” atau dipaksa untuk melakukannya. Sebagai orang Kristen, kita
dengan rela mengikuti Yesus dalam penderitaan-
Nya, sebagaimana Paulus menasihati kita, “Jadi
janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karenaDia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-
Nya oleh kekuatan Allah” (2 Tim 1:8).
Perhentian ke-9: Yesus bertemu dengan perempuan-perempuan dari Yerusalem (Luk 23-31).
Saat Yesus bertemu dengan perempuan-perempuan yang menangis dan sebagian dari murid-Nya dalamperjalanan-Nya menuju Bukit Golgota, Yesus memperingatkan mereka untuk tidak menangisi Dia,karena mereka seharusnya menangisi diri mereka dan anak-anak mereka, mengingat kejahatan yangbangkit di seluruh Yerusalem (Luk 23:27-31). Meski sedang menderita kesakitan dan penghinaan yangluar biasa, pusat perhatian Yesus bukanlah diri-Nya sendiri, melainkan kehidupan dan jiwa mereka yangakan mengalami hukuman kekal karena dosa-dosa mereka. Peringatan yang sama juga berlaku bagiorang Kristen pada saat ini, bahwa kita harus berhati-hati agar kesetiaan dan ketaatan kita kepada Allahselalu menjadi pusat perhatian kita, bukannya urusan kita dengan dunia ini. Yesus mengatakan,
“Kerajaan
-Ku bukan dari
dunia ini” (Yoh 18:36), dan sebagai warga negara surga, fokus dan perhatian
kita haruslah ke sana.
Perhentian ke-10: Yesus disalibkan (Luk 23:33-47).
Setelah dua ribu tahun berlalu, tetap sulit untuk membayangkan kengerian yang dihadapi oleh orang-orang terdekat Yesus, yang hanya bisa melihat tanpa daya saat paku ditancapkan menembus tangan dankaki-Nya dan menancap pada kayu yang yang akan menjadi tempat-Nya mengembuskan nafas terakhir-Nya sebagai manusia (Luk 23:44-46). Orang-orang yang dikasihi-Nya dan murid-murid belumsepenuhnya memahami makna dari apa yang sedang terjadi saat itu. Mereka belum mampu memahamibahwa perbuatan jahat manusia-manusia ini merupakan hasil dari tujuan dan rencana ilahi untukkeselamatan bagi semua orang yang percaya kepada
Kristus. Bagi kita saat ini, “bagaimanakah kita akan
luput, jikalau kita menyia-
nyiakan keselamatan yang sebesar itu?” (Ibr 2:3). “Dan keselamatan tidak ada
di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang
diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis 4:12).
50
Perhentian ke-11: Yesus menjanjikan kerajaan-Nya kepada penyamun yang bertobat (Luk 23:43).
Ada kemungkinan kalau penyamun yang disalibkan di samping Yesus mampu memahami konsep bahwakehidupan tidak akan berakhir bagi Yesus, bahwa Dia melampaui dunia fisik menuju janji kekal, tempatasal-Nya, yang disediakan bagi umat manusia. Penyamun ini termasuk orang yang pertama-tama
memasuki surga karena “kasih karunia melalui iman kepada
Yesus Kristus (Ef 2:8-
9).” Yesus berkata
kepada penyamun itu bahwa dia akan berada di Firdaus pada hari itu juga bersama-Nya karena diamengaku dan percaya kepada Anak Allah. Jelas, bahwa ini adalah contoh manusia yang diselamatkanoleh kasih karunia melalui iman dan bukan karena perbuatan. Mereka yang menganiaya dan mengutukYesus juga satu hari bisa menjadi orang yang percaya.
Perhentian ke-12: Yesus berbicara dengan ibu dan murid-murid-Nya (Luk 23:48-49).
Yesus, dalam keadaan sekarat, masih mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang diri-Nya sendiri ,sebagaimana dia mengatakan kepada Yohanes agar mengurusi kehidupan ibu-Nya (Yoh 19:27). Seluruhhidupnya, termasuk kematian-Nya, merupakan contoh nyata yang mengajarkan kita untukmementingkan kebutuhan orang lain ketimbang diri sendiri, dan menyerahkan segalanya kepadakehendak Allah yang sempurna. Kerelaan untuk taat kepada Firman-Nya dan menunjukkan melaluiperbuatan, dengan cara berkorban untuk orang lain saat menghadapi kesulitan menggambarkankarakteristik kehidupan orang Kristen yang sejati.
Perhentian ke-13: Yesus mati di kayu salib (Luk 23:44-46).
Pada saat kematian Yesus, tabir di Bait Suci, yang memisahkan manusia dengan Ruang Maha Kudus,terbelah dari atas sampai bawah. Hal ini menimbulkan ketakutan dalam diri setiap orang Yahudi yangmenyaksikan peristiwa itu. Mereka tidak menyadari bahwa hal ini menandakan berakhirnya PerjanjianLama dan permulaan dari Perjanjian Baru. Manusia tidak perlu lagi menderita perpisahan dari Allahkarena dosa, namun kini bisa menghampiri takhta kasih karunia di dalam doa dan pengampunan dosa.Kehidupan dan kematian Yesus telah menghapuskan penghalang dosa, memungkinkan manusia untukmemperoleh keselamatan melalui kasih karunia.
Perhentian ke-14: Yesus dikuburkan di dalam makam (Luk 23:50-54).
Setelah Yesus mati dan mayat-Nya diturunkan dari salib, Dia kemudian dikuburkan di dalam sebuahmakam yang disediakan oleh Yusuf yang berasal dari Arimatea, sebuah kota Yahudi (Luk 23:50-54).Ternyata Yusuf merupakan salah satu anggota Mahkamah Agama, namun dia menentang pengadilandan penyaliban Yesus. Yusuf secara sembunyi-sembunyi percaya bahwa Yesus adalah Mesias yangdinubuatkan Alkitab, namun dia takut terhadap konsekuensinya jika dia mengakui keyakinannya secaraterbuka (Yoh 19:38). Setelah Yesus mati, Yusuf menghadap Pilatus secara diam-diam dan memintamayat Yesus agar dia dapat menguburkan-Nya dengan layak.Pengorbanan Yesus yang besar tidak hanya menjadi pendamaian bagi dosa-dosa manusia, namun jugamenjadi kemenangan yang bisa menundukkan dan mengalahkan kematian, yang seharusnya menjadinasib yang tak terelakkan bagi semua manusia yang lahir di bawah kutuk dosa. Dosa membawahukuman yang tidak terhindarkan, yaitu kematian. Pencipta kita adalah Pribadi yang adil sehingga Diamenuntut pembayaran hukuman atas dosa. Karena Allah penuh kasih dan pengampunan, sebagaimanaDia juga adil, Dia mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal untuk membayar hukuman atas dosa-dosakita; menyadari bahwa kita akan binasa dalam kekekalan (Yoh 3:16).Kasih dan pengampunan Allah ditunjukkan oleh perkataan Yesus ketika Dia berada di kayu salib, Yesusmeminta Allah untuk mengampuni semua orang yang akan membunuh Dia karena mereka tidak tahuapa yang mereka perbuat (Luk 23:34). Sangat mungkin kalau keengganan seseorang untuk menyerahkandiri sepenuhnya dalam ketaatan kepada Allah disebabkan kurangnya hikmat dan kebijaksanaan. Adalahironi mengingat keengganan manusia untuk taat kepada kehendak Allah inilah yang menyebabkankematian Yesus di kayu salib ini, yang sekaligus berakibat fatal secara spiritual bagi mereka yang tetapmenolak untuk percaya. Orang-berdosa yang masih menolak untuk menerima karunia keselamatan yanghanya mungkin ada melalui pengorbanan Yesus, sudah pasti merupakan hasil dari sifat memberontakdan kuasa dosa yang memisahkan manusia dari hikmat Allah.
51
Sepuluh Perintah Allah
1.
Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepadaKu saja, dan cintailah Aku lebihdari segala Sesuatu2.
Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat3.
Kuduskanlah hari Tuhan4.
Hormatilah ibu-bapamu5.
Jangan membunuh6.
Jangan berzinah7.
Jangan mencuri8.
Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu9.
Jangan mengingini istri sesamamu10.
Jangan mengingini milik sesamu secara tidak adil
Komentar
Posting Komentar